Portal Informasi STAN Nomor 1

Keyword 1

Keyword 2

prodip-stan.info

Portal Informasi STAN Nomor 1

Kerangka visi KM STAN

Posted on | September 19, 2011 | No Comments

Kerangka visi KM STAN kita bagi menjadi 6 (enam bagian), yang masing-masing merupakan tahap berpikir yang sebenarnya abstrak dan mungkin acak (namun terintegrasi). Semua kata yang tertuang dalam kerangka ini hendaknya dipahami secara kontekstual (bukan kontennya saja) agar makna yang sebenarnya dapat dirasakan.

ORIENTASI BERPIKIR

Orientasi berpikir dalam penyusunan visi ini adalah sebagai berikut.

* Persepsi akan visi

Hal ini yang mesti kita sepakati terlebih dahulu. Visi yang sebenarnya adalah apa yang tergambar dalam pikiran kita, dengan segenap emosinya. Gambar abstrak ini kemudian di-eksplisitkan dalam bentuk kata-kata. Proses inilah yang akan membedakannya dengan kalimat visi lain yang meniadakan proses tersebut, sekalipun secara harfiah lebih manis.

* Berpikir intelijen

Cara berpikir intelijen mensyaratkan kita untuk melakukan sesuatu berdasarkan data serta integrasi lintas bidang ilmu (multi disiplin) sehingga menghasilkan ide. Cara berpikir ini akan berguna dalam memahami keadaan dan konteks yang melingkupinya, serta (tentu saja) membaca masa depan.

* Berpikir dalam bingkai hasil (outcome frame thinking)

Merupakan cara berpikir yang berorientasi pada hasil yang kita inginkan, alih-alih masalah. Cara berpikir outcome framing ini mensyaratkan kita untuk tahu apa yang sebenarnya kita inginkan, dan ke mana persisnya kita ingin pergi. Sesuatu yang mutlak dibutuhkan dalam sebuah visi.

* Berpikir kontekstual

Bermimpi berenang di matahari adalah contoh berpikir tidak kontekstual. Agar visi tidak keliru, kita perlu memahami konteksnya. Visi yang benar adalah keinginan atau tujuan yang kontekstual. Saat segala sesuatunya kontekstual, kita juga tidak perlu lagi berbusa-busa berdebat apakah visi ini muluk-muluk, menantang, terukur, atau realistis.

* Berpikir sederhana

Kita sering mengira semakin kompleks kita berpikir, semakin hebat kita. Padahal Einstein menghabiskan waktu yang lama hanya untuk menyederhanakan rumusnya. Semakin tinggi pengetahuan seseorang semestinya semakin mampu baginya menyederhanakan sesuatu. Dalam menuliskan visi, kita perlu membuang kompleksitas yang (biasanya memang) tidak perlu.

* Bersikap fleksibel

Hari esok sepenuhnya adalah misteri. Meskipun kita berusaha sangat optimal, tetap bukan kita yang memutuskan tercipta tidaknya kenyataan. Ada kalanya pula segala sesuatunya tidak berjalan sesuai harapan. Saat rencana A terganjal, kita tidak perlu langsung gulung tikar, mainkan saja rencana lain.

INVESTIGASI KEADAAN

Dalam ilmu investigasi hukum, terdapat dua pendekatan yakni deduktif dan induktif. Namun yang kita pakai di sini adalah kombinasi dari keduanya, setelah dipoles dengan sentuhan intelijen (termasuk di dalamnya human touch, baik insting maupun nalar tidak logis lainnya).

Hasilnya, terdapat simpul-simpul keadaan sebagai berikut.

  1. Kita cenderung melakukan pengulangan dari apa yang apa yang dilakukan organisasi kita di tahun-tahun sebelumnya. Baik dalam alur kejadian, cara berorganisasi, progam kerja, kegiatan, dan budayanya. Akan disayangkan jika kita menyusun rencana tahun ini hanya dengan memodifikasi (kata-kata) rencana tahun sebelumnya.
  2. Kita sudah mulai birokratis. Birokrasi memang perlu, namun seperlunya saja. Birokratis adalah birokrasi yang sudah mengakar hingga ke dalam cara berpikir. Contohnya adalah ketika kita sudah mulai mempersoalkan hal-hal sepele seperti format surat yang harus begini, atau harus melewati otorisasi tertentu hanya untuk menempel pamflet, atau saat otak kita mulai kelewat prosedural.
  3.  Relasi kita dengan mahasiswa masih vertikal dan one to many. Perpektif yang kita pakai adalah perspektif kita. Vertikal berarti menempatkan diri kita ‘di atas’ mahasiswa yang kita tempatkan ‘di bawah’ kita. Kita hanya menjuali mereka dagangan kegiatan kita tanpa memperhatikan kebutuhan mereka. Di sini konsep pemasaran kita juga masih konvensional.
  4. Dengan seringnya melakukan pengulangan, lingkungan yang mulai birokratis, dan prinsip-prinsip konvensional masih kiat anut, menjadi wajar ketika kita sulit untuk sekedar menghasilkan gagasan atau ide baru. Dalam segala hal, dari yang detail mengenai format surat apalagi hal yang strategis. Jika ide saja sulit muncul, maka aplikasi dari ide tersebut (inovasi) juga mustahil dilakukan.
  5. Referensi kita terbatas. Referensi diperlukan tidak untuk ditiru namun bisa menjadi generator produktivitas ide baru. Namun referensi kita terbatas karena nihilnya budaya pembelajar di kita. Pengetahuan dan pengalaman yang kita miliki jarang kita share ke organisasi lain. Mahasiswa yang tidak mengikuti salah satu kegiatan kita, tidak dapat ketiban ilmunya. Pengetahuan tahun ini tidak ditransfer ke tahun berikutnya. Budaya membaca dan menulis kita juga masih minim.
  6. Akuntabilitas kita belum terukur. Selama ini hanya diukur berdasarkan audit laporan keuangan, yang intinya merunut uang yang menjadi input akan lari ke mana. Asal ketahuan finish-nya, selesai perkara. Efek dari pemakaian uang tersebut bagi mahasiswa belum kita ukur. Ini juga salah satu prinsip konvensional yang masih kita anut. Padahal akuntabilitas sebenarnya melekat di kita (sebagai pemegang amanah) dengan atau tanpa uang mahasiswa yang kita gunakan.
  7. Integritas kita masih perlu dibuktikan. Integritas pada dasarnya sederhana: kata-kata dan tindakan kita itu sesuai. Kalau kita tidak mau ditempatkan di Merauke sana ya sebaiknya kita tidak usah mangaku-ngaku cinta Indonesia. Itu contoh. Kalau kita mengaku agen perubahan ya semestinya kita buktikan itu. Jika semua yang kita lakukan sama dengan yang sudah ada, apanya yang berubah?

OUTCOME FRAMING

Meskipun kita telah menemukan ‘masalah’ dari hasil investigasi kita, jangan sampai kita terjebak pada ‘problem frame thinking’ (pemikiran dengan bingkai masalah), apalagi ‘blame (menyalahkan) frame thinking’. Hal tersebut tidak akan pernah memberikan solusi. Kita sebaiknya berpikir dalam bingkai hasil yang diinginkan (outcome frame thinking), seperti telah diutarakan pada Orientasi Berpikir di atas. Berikut outcome framing dari hasil investigasi kita di atas.

  1. Meskipun kita birokratis, konvensional, tidak inovatif, dan tidak mau belajar, kita semua menerima dan menyadari itu.
  2. Birokratis, konvensional, tidak inovatif, dan tidak mau belajar, bagi kita bukanlah kegagalan, melainkan hanya umpan balik yang berharga.
  3. Kita gunakan pengandaian: “jika seseorang bisa inovatif, mau belajar, tidak birokratis, dan tidak konvensional, maka kita pun bisa melakukannya”.
  4. Selanjutnya informasi hasil investigasi tadi akan kita gunakan untuk melakukan perubahan dengan fokus terhadap apa yang sebenarnya kita inginkan dan bagaimana cara kita untuk melakukannya. Terkait bagaimana, beberapa orientasi berpikir berikut dapat digunakan.

– Kapan persisnya kita menginginkannya?

– Bagaimana kita tahu bahwa kita telah mendapatkannya?

– Ketika kita mendapatkannya, apalagi aspek hidup kita yang akan berkembang?

– Sumber daya apa yang kita miliki yang dapat membantu kita?

– Bagaimana cara optimal untuk memanfaatkan sumber daya tersebut?

– Apa yang SEKARANG harus kita lakukan untuk memperoleh apa yang kita inginkan?

Sampai di sini, betapapun besarnya hambatan yang kita temui, kita dapat meresponnya dengan emosi yang menyenangkan. Bahkan kita akan lebih mudah tergerak untuk menghasilkan ide dan segera melakukan tindakan.

KONTEKS

Konteks kita sebagai KM STAN tidaklah mungkin kita abaikan dalam menuliskan visi kita. Ketika kita abaikan, visi tersebut menjadi tidak relevan. Konteks juga mungkin beragam, namun selalu interdependen. Relevan juga ketika konteks yang beragam tersebut tidak dipisah-pisahkan, karena sifatnya tadi. Konteks utama kita adalah sebagai berikut.

* Kita sebagai calon PNS

Menjadi PNS adalah konsekuensi sadar saat kita menjadi mahasiswa STAN. Menjadi relevan ketika visi kita upayakan untuk menyiapkan kita ke arah sana. Sehingga manfaatnya dapat diamalkan secara berkesinambungan di sepanjang usia kita paska-kampus.

* Kita sebagai mahasiswa

Konteks yang siapapun akan berkata,”tentu saja”. Mahasiswa yang semestinya kompatibel dengan zaman dan masa depan, dan tidak melulu hidup di nostalgia heroisme masa lalu. Dengan modal trust di publik, mahasiswa dapat berkontribusi secara eksternal. Sebagai mahasiswa kita juga paling dekat dengan sumber pengetahuan, sehingga paling layak untuk menghasilkan ilmu pengetahuan baru.

* Kita sebagai penerus masa depan

Konteks ini adalah logis mengingat usia maksimum kita adalah 24 tahun (D3) dan 35 tahun (D4), yang artinya masa depan adalah milik kita (kita yang berkesempatan mengelolanya). Visi kita arahkan untuk menyiapkan bekal untuk masa itu.

* Kehidupan kampus kita adalah miniatur kehidupan publik yang nyata

Saat kita dipercaya untuk mengelola kampus, sama artinya kita mengelola kehidupan publik yang nyata (negara), bukan sekedar berorganisasi. Memahami mahasiswa juga seperti memahami rakyat pada umumnya. Kondisi yang kita inginkan terjadi di negara kita semestinya kita wujudkan terlebih dahulu di kampus kita. Sehingga bila nanti waktunya tiba, kita telah mendapat cukup pengalaman.

DRAF VISI

Poin-poin dalam visi kita adalah sebagai berikut.

* Digali dari identitas kolektif anggota KM STAN

Identitas kolektif adalah identitas yang siapapun dari kita tidak akan menolaknya. Identitas kolektif diperlukan untuk menghidupkan interaksi dalam organisasi, menata hubungannya, dan menggerakkan seluruh anggota untuk mencapai tujuan.

* Fokus pada pembentukan intangible assets

Intangible assets atau soft competencies dapat berupa tata nilai, semangat, integritas, profesionalitas, kreativitas, dan kemampuan tidak terlihat lainnya. Meskipun tidak terlihat, intangible assets dapatlah dirasakan dan jika dimobilisasi akan memberi nilai tambah bagi kehidupan.

* Adanya pengelolaan pengetahuan

Pengetahuan dapat berbentuk pengalaman maupun kajian pemikiran (berbentuk tulisan). Pengelolaan berarti adanya sharing, transfer, serta pengembangan pengetahuan (termasuk pengalaman yang didapat dari penyelenggaraan kegiatan) yang kita miliki terhadap seluruh KM STAN pada tahun tersebut, juga pada tahun-tahun berikutnya. Ketika itu terjadi maka akan ada akumulasi dan pengembangan pengetahuan di kampus kita, sehingga lebih mudah bagi kita melakukan perubahan.

* Menstimulus lahirnya inovasi baru

Inovasi adalah aplikasi dari ide/ gagasan. Jadi inovasi adalah sebuah tindakan. Inovasi akan terjadi jika lingkungan yang merangsang lahirnya ide baru tercipta. Debirokratisasi menjadi syarat di sini. Pengelolaan pengetahuan juga turut mendukung. Tanpa inovasi yang ada hanyalah pengulangan. Jika semua adalah pengulangan berarti tidak ada perubahan. Tanpa perubahan tidak ada sejarah baru.

* Relasi antar anggota KM STAN yang horizontal

Sebagai sebuah keluarga, antar anggota KM STAN semestinya dapat berinteraksi, terhubung (connected), dan saling memperkuat. Kita sebagai penyelenggara kegiatan semestinya menjadi pelayan mahasiswa dalam memfasilitasi dan memberdayakan potensi terbaik mereka.

* Kompatibel dengan zaman dan mengantisipasi masa depan

Dalam hal ini setidaknya kita tidak menerapkan lagi cara-cara konvensional yang sudah tidak lagi relevan pada saat ini. Kompatibel dengan zaman menjadi penting agar yang kita kerjakan tidak kontraproduktif bagi peradaban. Bahkan sebaiknya kita mampu mengantisipasi masa depan dengan memberi kontribusi yang positif.

Kalimat visi yang akan kita canangkan adalah representasi dari Kerangka visi di atas. Silakan memberi masukan, usul, saran, dan semacamnya. Thanks.

 

Sumber: http://stanvaganza.wordpress.com/2010/07/11/kerangka-visi-km-stan/

Jika anda ingin perkutut bangkok 

"

Comments

Leave a Reply





'